Mitos Apem Cirebon dan Pamali Bulan Shafar

0
228

CIREBON, TRAVELCUY.com: Anda sudah tak asing lagi mendengar nama kue ini. Bentuknya bulat dan memiliki tekstur lembut bila dimakan. Kue ini kerap tersaji diberbagai acara adat Cirebon.

Adalah kue Apem. Kue khas Cirebon itu dipercayai masyarakat memiliki makna sakral. Apalagi kue yang dibuat dari bahan tepung beras, tape ketan, ragi, dan gula yang dicampur menjadi satu dan dikukus pada panci atau dandang, menambah nilai kearifan lokal Jawa Barat.

Apem merupakan kue tradisi yang biasa dibagi-bagikan pada bulan Shafar. Konon  kue ini bisa jadi jembatan untuk manusia agar diberi rakhmat serta terhindar dari kesialan.

Shafar merupakan bulan menjelang Maulid (Robiulawal-red) yang merupakan bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad saw.

Maka sebagian masyarakat Cirebon percaya dengan Pamali pada bulan Shafar. Seperti berusaha untuk menghindari perjalanan jauh, pekerjaan berbahaya dan pernikahan.

Pada bulan Shafar warga Cirebon dianjurkan memperbanyak membantu orang lain dan sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua, panti jompo dan mempererat tali silahturahmi di antara sesama.

Berkaitan dengan ini, masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan tiga  macam kegiatan yang dikenal dengan “ngapem, ngirab dan rebo wekasan”.

Kata Apem ternyata syarat dengan filosofinya lho!!

Apem dimaknai juga sebagai “sedulur papat kelima pancer” sebagai daur hidup manusia yang menggambarkan kelahiran sang jabang bayi. Dari mulai kelahiran sang jabang yang diawali dengan getih/rah (darah), air ketuban, ari-ari dan bocah itu sendiri dianggap sebagai sebuah proses yang diyakini masyarakat Jawa dan Cirebon.

Dian Ahmad Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.